Home / Asia / Thailand Trip – Bangkok + Pattaya

Thailand Trip – Bangkok + Pattaya

Yay!! Akhirnya the ultimate trip tahun ini keturutan! Ultimate karena dari dulu banget ke Bangkok itu adalah semacam destinasi impian saya kategori Asia Tenggara. Sebenernya, ‘keperawanan’ saya going abroad pengennya diambil oleh Thailand. Tapi sepertinya memang belum jodoh (baca : belum dapet harga tiket cakep), jadi baru kali ini kesampaian. Biasa, pakai Air Asia promo, IDR 600k saja pulang pergi. Setelah sukses menyusun ittinerarry, booking hotel dan nemu driver untuk ke Pattaya. Akhirnya saya, Aya, Konyol, Nana NJ, dan Lutfi berangkat juga.

October 13th 2011 | Day 1

Khao San Road | Rambuttri Road

Sesampainya di Suvarnabhumi Airport, waktu itu jam 9 malam, kami sesegera mungkin mencari public taxi resmi dari bandara di lantai 1. Padahal kata mbak-mbak petugasnya taksi yang kita naikkin ini akan pakai ‘meter’ (Argo) lho..tapi kok meter-nya gak nyala ya? yang ada kita ditawar harga dari awal kena 700 baht not include highway (70 baht) pula. Karena saya dan rombongan ber-5 jadi kita diberi taksi innova, karena itulah harganya lebih mahal dari taxi sedan biasa.

Benar apa yang dibilang orang-orang bahwa Rambuttri Road itu lebih bersahabat ketimbang Khaosan Road. Gang-nya berdekatan tapi suasananya jauh lebih enak Rambuttri Road. Di Khao San itu ramai dan hingar bingar kalau Rambuttri ramai tapi tentram. Dua-duanya sama-sama kawasan turis backpacker. Tapi kalau untuk istirahat, Rambuttri menurut saya lebih oke.

Khao San Road

Rambuttri Road

Nah hotel kita, Lamphu house – yang cukup direkomendasikan dikalangan backpacker Indonesia, letaknya gak jauh dari mulut gang Rambuttri. Patokannya gampang, di sebelah 7-Eleven pertama, masuk sedikit sampai mentok sampe deh Lamphu House. Hotelnya cukup besar karena terdiri dari 4 lantai, kamarnya kecil tapi bersih dan nyaman. Kalo inget harganya cuma 630 baht atau IDR 189.000 per kamar sih itungannya worth it banget!

Setelah check in, saya dan yang lain jalan-jalan disepanjang Rambuttri Road untuk cari makan malam. Makanan pertama saya di Thailand tak lain dan tak bukan adalah Tom Yam Kung seharga hanya 100 baht saja. Rasanya asem pedas gurih enak! Setelah perut dan lidah senang, kita beranjak untuk jalan- jalan di Khao San Road. Sepanjang jalan Khao San ini dipenuhi dengan bar-bar dan club normal (I’ll tell you later yang gak normal itu kayak apa) untuk sekedar santai-santai dan menikmati keramaian jalan Khao San. Baru setengah menjamah Khao San Road, mendadak hujan turun super deras. Tapi berkat hujan inilah, saya bisa gak sengaja berteduh di tour service yang menjual tiket chao praya dinner cruise dengan harga miring, 950 baht per orang sudah include pick up service ke hotel. Padahal normalnya, dinner cruise ini sekitar 1000 – 1500 Baht! Wohooo!

Lamphu House

October 14th 2011 | Day 2

Grand Palace | Wat Pho | Nong Nooch Village| Floating Market | Thai Girl Show | Alcazar Show | Pattaya Walking Street

Alasan saya kenapa pilih menginap di Lamphu House, selain pengen punya experience di kawasan turis backpacker-nya Bangkok yang hits ini, adalah karena dekat dengan tujuan wisata perkuilan (Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun) yang juga adalah landmark kota Bangkok.

Sehabis sarapan chicken sandwich di 7-Eleven sebelah hotel, kami pun beranjak menuju Phra Atiet Pier dengan jalan kaki sekitar 8 menit. Agak syok waktu sampai pier melihat air sungai Chao Praya pasang dan bertumpahan ke daratan. Tapi so far masih aman kalau berperahu di Chao Praya. Jadi kalau dari kawasan Bang Lamphu (Phra Athiet, Rambuttri, Khao San) untuk menuju Grand Palace tinggal menggunakan perahu umum di Chao Praya bayar 15 Baht turun di dermaga dekat Grand Palace, bilang aja ke kondekturnya, kalau mau ke Grand Palace. Nanti kalau sudah sampai di dermaga tujuan, si kondektur bakalan ngasih tau untuk siap-siap turun. Dari dermaga ke Gerbang Grand Palace cuma 5 menit jalan kaki, masuknya bayar 400 Baht.

FYI, penting dicatat, pakailah baju yang tertutup dan sopan untuk mengunjungi kuil-kuil ini, katanya kalo pake yang mini-mini gitu gak boleh masuk dan yang ada disuruh sewa baju kurung dari kuilnya. Eh ya, bersyukur kita gak ketemu tuh yang namanya scammer-scammer di gerbang Grand Palace. Padahal udah wanti-wanti yang lain dan udah siapin senjata cuek bebek kalo-kalo kita disamperin sama scammer-scammer itu. Tapi ternyata gak ketemu, God save the traveler 😉

Grand Palace

Dari Grand Palace menuju Wat Pho sebenernya terbilang cukup dekat, karena letaknya sebelah-sebelahan. Tapi kalo dijalanin ternyata jauh juga yaa, berasa lho capeknya. Ditambah panas-nya Bangkok waktu itu lagi greng banget. Tapi gakpapa-lah demi foto-foto sama sleeping Buddha yang katanya beroleskan emas asli itu saya rela. Oh ya untuk masuk ke Wat Pho ini bayar 50 Baht.

Wat Pho

Rencananya sehabis dari Wat Pho, seharusnya kita masih harus ke Wat Arun, tapi karena saat itu waktu menunjukkan pukul 11.30 sedangkan kita janjian driver yang akan membawa kita ke Pattaya di hotel jam 12. Jadi kegagahan Wat Arun cukup dinikmati dari dermaga tempat kita menunggu kapal menuju Phra Atiet Pier.

Wat Arun

Di perjalanan pulang ke Lamphu House, sempet-sempetin jajan nyicip Mango Sticky Rice. haaa ternyata lezaaat! Buah Mangga manis + ketan + susu. Slrrrpp! Rasa mangga-nya pas, susu-nya pas, dan ketan-nya pas! *sumpah pas nulis ini gw ngiler berat*

Mango Sticky Rice

Waktu itu kita beranjak dari Lamphu House jam 12.30 siang untuk menuju Pattaya. Pak Thanu, driver kita, yang saya kenal lewat rekomendasi di Kaskus, bisa berbahasa Indonesia lancar sekali karena dia pernah disuruh bos-nya ambil les Bahasa Indo. Saya booking Pak Thanu 3 hari sebelum hari H keberangkatan, dan untungnya dia available! Dan sumpah ya, saya benar-benar beruntung dapat driver Pak Thanu. Karena dia open to discuss, baik sekali, helpful, dan super plusnya, dia bisa bahasa indonesia!

Saya share rencana perjalanan saya hari ini mau ke Nong Nooch, Floating Market, Thai girl Show, Alcazar show dan diakhiri dengan -5 ice bar. Beliau mengiyakan dan berusaha mengejar waktu agar semua rencana saya keturutan hari itu. Sampai-sampai biar hemat waktu dan bisa nyampe di Nong Nooch pas seperti yang dijadwalkan (show yang jam 3 sore), makan siang hari ini kita take away McD dan dimakan di van dalam perjalanan ke Pattaya. 😀

Mr Thanu’s Van

Nong Nooch Village!

Nong Nooch ini adalah sebuah taman rekreasi yang juga menampilkan beberapa show di jam-jam tertentu. Untuk jadwalnya kalau gak salah cuman ada jam 10, 11 siang dan jam 3, 4 sore. Show-show yang akan dipertunjukkan adalah show kebudayaan Thailand, show Gajah dan show Thai boxing. Durasi seluruh show itu sendiri adalah sekitar 45 menit – 1 jam dengan HTM 550 Baht. Tapi err..it supposed to be 300 Baht aja kali ya?

Nong Nooch Village

Pattaya Floating Market!

Floating Market di Pattaya ini bukan Floating Market alami penduduk Thailand, tapi sudah dipermak untuk menjadi tujuan wisatawan turis. Mungkin yang mau experiencing floating market beneran seharusnya gak ke floating market yang di Pattaya ini. Tapi kalo cuma untuk jalan-jalan dan pengen tau gambaran Floating Market itu seperti apa, ya bolehlah ke sini, berhubung masuknya juga free, tapi kalau naik perahunya bayar yaaa :)

Pattaya Floating Market

Thai Girl Show!

Tadinya saya dan yang lain berencana untuk nonton show xxx ini di Patpong, tapi Pak Thanu menyarankan sebaiknya kalau mau nonton Thai Girl di Pattaya saja. Karena di Patpong banyak scam dan lagi (katanya) bagusan di Pattaya kok show-nya. Jadilah kita menurut. Dan jam setengah 8 malam, sehabis check in, bersih-bersih di hotel, makan malam seafood di food court alcazar, kita menuju ke tempat lokasi Thai Girl Show. Jadi sistem show ini adalah berputar, akan ada beberapa atraksi yang berantai, ketika kita masuk mungkin sedang show ke-4. Nah nanti keluarnya pada saat kita merasa sudah menonton show yang serupa, itu berarti show sudah berlangsung 1 putaran.

Sebenarnya saya sudah pernah mendengar cerita detail tentang show ini, tapi kali ini pengen membuktikan dengan mata kepala sendiri keabsahan cerita dari teman saya, yang ternyata memang absah. Hahaha. Tapi ya, saya yakin pasti ada beberapa atraksi yang tidak asli, melainkan ‘trik’. Karena bagaimanapun saya nggak percaya serantaian jarum atau silet super panjang bisa keluar dari ‘itu’nya wanita. Gak mungkiiiinnn! Anyway I dont want to tell you details of the attractions, you have to experience it yourself :) Yang jelas, Thailand memang gila. Dan Thai Girl Show bukan pertunjukan di bawah umur! Dan 1 lagi, setelah menonton acara ini, saya dan teman-teman untuk sementara waktu mungkin tidak akan minum fanta dan tidak akan makan pisang. Trauma. Hahaha.

Alcazar!

Nah ini dia show banci kelas spektakuler yang panggung, kostum dan koreo-nya oke berat. Semua performa banci-nya keren-keren dan banci-nya sendiri cantik-cantik dan lincah-lincah.

four thumbs up and definitely a must watch show in Pattaya! Worth it untuk harga 600 Baht! Actually, ada 1 show banci lagi namanya Tiffany Show. Setelah di riset di internet, katanya, banci-banci di Tiffany memang banci-banci tercantik di Thailand. Tapi dari segi kualitas performance, banci-banci di Alcazar lebih oke. Udah gitu, selama show boleh motret-motret kalo di Alcazar, di Tiffany ga boleh. That’s why i’d prefer Alcazar. :)

Alcazar Show

Setelah ber-Alcazar, agenda selanjutnya adalah nongkrong-nongkrong cantik di minus5 ice bar. Bar ini punya ambience seperti di kutub, semuanya terbuat dari es, suhunya mencapai minus 5 derajat. Dan di bar itu sendiri ada penyewaan mantel-mantel untuk kita yang mau bercengkrama di dalamnya. Sounds fun, eh? Pas dateng kesana, ternyata informasi yang disediakan di web mereka, tentang FDC 200 Baht itu udah gak berlaku. FDC nya sekarang adalah 500 Baht. Pikir punya pikir, sayang juga ngabisin 500 Baht cuma untuk duduk-duduk di ruangan es dan minum-minum sepuasnya, ya minum sepuasnya! Tapi, waktunya dibatasin sekitar 20 menit. Jadi, dalam 20 menit itu, kita boleh minum apapun (Soft drink, lemon tea, Wine, Whiskey, Tequilla, you name it!) sampai sebanyak apapun hanya dengan 500 Baht! Karena tujuan kita kesana memang bukan minum-minumnya, tapi lebih pengen ngerasain ambience es-nya itu, akhirnya, setelah berunding dan Pak Thanu juga tidak menyarankan, kita memutuskan untuk tidak jadi masuk. Sebagai gantinya, kita diturunin sama Pak Thanu di ujung Beach Road, depan pintu masuk Pattaya Walking Street, tempat dimana bar-bar dan cafe-cafe gak normal berada.

-5 Bar

Pattaya Walking Street!

Pattaya Walking Street is a truly party zone with a huge crowd! Di sepanjang walking street ini, berjejer bar-bar agogo di kanan kiri jalan. Bukan bar/cafe/pub/club biasa karena didalam semua tempat-tempat hiburan ini ada tiang-tiang berpenunggu. Penunggu-nya ya cewek-cewek (entah asli entah palsu) cantik. Mau Local girl? Mau European Girl? Mau Chinesse? Semuanya tersedia, malahan ada yang dipampang dan joget-joget di etalase kaca. Udah pernah nonton Hangover 2? Inget dong sama Shark Agogo? Nah, kita nemuin itu disini, pas lewat depannya, Jreng-jreng! ada 2 cewek completely naked di depan pintu Shark ini. Totally Kreizeeeee and Wiiiillld!

Pattaya Walking Street

Setelah menyisir habis Pattaya Walking Street, gak pake mampir karena gak nemu bar/cafe yang normal. Bukannya gimana-gimana ya, tapi awkward aja gituh masuk ke tempat-tempat agogo begitu. Sekitar jam 1.00 dini hari, akhirnya kita kembali ke hotel – Mike Beach Resort. Hotel ini letaknya di Beach Road Soi 4, dekat sekali dengan pantai tapi jauh dari hingar bingar Pattaya wild nightlife. Hotel kita kali ini bintang 3 loh (tumben banget!), berhubung dapet harga yang cukup kompeten di Agoda, yaitu sekitar IDR 315.000 per kamar per malam. Sikat sajalah 2 kamar!

Mike Beach Resort

October 15th 2011 | Day 3

Bali Hai Pier | Pattaya Beach | South Pattaya Fruit Market | Buddha Laser | Patpong

Bangun pagi, sarapan di hotel, lalu berkemas sekaligus check out. Tadinya rencana kita pagi ini adalah nyebrang ke Koh Larn via Bali Hai Pier. Tapi setelah diskusi (lagi) dengan Pak Thanu, beliau bilang, kalo kita gak ada niat main water sport di Koh Larn, mendingan gak usah kesana. Karena disana biasa aja dan harus sewa perahu yang cukup mahal. Bisa sih pakai perahu umum, tapi akan buang-buang waktu karena lama sampenya. Jadinya, kita cancel saja rencana satu ini. Tapi tujuan Bali Hai Pier tetap kita turuti. Sebenernya gak ada yang menarik dari Pier ini selain ada tulisan ‘Pattaya’ besar di atas bukit yang bagus untuk foto-foto. Jadi setelah foto-foto sampe muntah kita langsung diantar ke pantai untuk santai-santai.

Pattaya Beach

Menurut saya, pantai Pattaya ini mirip Kuta, suasananya juga mirip, tapi Pattaya lebih bersih. Sekitar 2 jam berjemur dibawah payung sambil minum kelapa muda lalu ditutup dengan bermain lempar-botol ke laut dengan Tommy, -a good swimmer golden retriever kepunyaan bapak-bapak turis bule- Akhirnya kami undur diri dari Pattaya Beach. Dan siap-siap untuk ke Buddha Laser sebelum kembali ke Bangkok.

Di tengah perjalanan, berawal dari si Aya yang nanya dimana kalau mau makan durian bangkok yang enak dan murah, si Pak Thanu dengan cekatan langsung menawarkan untuk mampir di pasar buah pattaya selatan. Durian-nya durian Bangkok berdaging tebal yang yummmmyyyy!!

*Duh lagi lagi nelen ludah.* Durian segede bagong yang cukup buat kita ber-4 (kecuali nana) blenger itu harganya cuma 300 Baht equals to IDR 100.000. Kalo di Jakarta, Durian segede itu harganya pasti udah hampir 200.000!

Sehabis makan durian, Pak Thanu ngajak makan siang Pad Thai terenak di Pattaya Selatan. Letak warung makannya gak jauh dari tempat durian tadi. Pak Thanu juga membelikan kita ayam goreng Pattaya Selatan yang astagaaaaaa! rasanya enak banget! Crispy Spicy Crunchy gimana gitu…Saking enaknya, Pak Thanu sampai beliin 1 porsi ayam lagi, pas mau diganti uangnya, dia menolak aja loh! Hihihi…baik yaaa? Lucky us to have him as a driver!

Pattaya South Market

Buddha Laser

Buddha Laser ini lokasinya setengah jam dari Pattaya. Seharusnya kalau mau searah dan sejalan, kemarin dari Nong Nooch dan Floating Market, bisa sekaligus ke Buddha Laser. Tapi kemarin karena waktu juga mepet. Jadi Buddha Laser dipindahkan ke hari ini. Buddha Laser ini merupakan pahatan Buddha super besar di dinding tebing yang super besar juga. Masuk ke tempat ini juga gak bayar. Termasuk yang oke untuk dikunjungi di Pattaya menurut saya. And now lets heading back to Bangkok!

Buddha Laser

Hari sudah mulai gelap waktu sampai di hotel kita di Bangkok. Nama hotel kita sekarang adalah Residence Ratjaevee. Kita pesan family room disini dengan harga IDR 620.000 per malam. Enaknya, family room ini kayak apartment gitu, terdiri dari 2 kamar, 1 pantry, ruang tengah, meja makan. Ahhh! totally worth it, karena berarti kalau dibagi 5, 1 orang cuma kena sekitar 125.000! Cihuuuy! Udah gitu ya, ini hotel strategisnya minta ampun, letaknya di Petchaburri Road, tepat berada di tengah-tengah the famous Siam Paragon dan Pratunam Market & Platinum Mall. masing-masing tujuan ditempuh hanya dengan jalan kaki 5 menit. Wohooo! Definitely the best recommendation untuk anda anda sekalian yang ke Bangkok dengan tujuan belanja.

Residence Rajtaevee

Setelah urusan check in dan bersih bersih badan selesai, kita lalu beranjak untuk dinner di the biggest restaurant in the world, The Royal Dragon. You know what! Pak Thanu bersedia mengantar kita ke restaurant tersebut yang letaknya agak di luar kota sedikit tanpa additional charge! Yeaaayy! Setibanya di Royal Dragon, errr jujur ya, sebenernya nih restaurant kok gak keliatan gede-gede amat ya? Atau memang kita gak ngelilingin sampe ujung? Entahlah. Dan atmosfirnya juga biasa aja. Makanannya? Standar. Harganya? Gak mahal, masih terjangkau kok. Tapi gelarnya sebagai The biggest restaurant in the world-nya gak berasa sama sekali. Yah sudahlah, yang penting pernah :)

Royal Dragon

Karena masih jam 10 dan merasa agak tabu kalau mau langsung pulang ke hotel, akhirnya kita minta di drop oleh Pak Thanu di tempat nongkrong anak muda yang masih buka jam segitu. Dan coba tebak kita di drop dimana? Patpong! Patpong ini adalah red district area yang terkenal di Bangkok. Isinya bar-bar seperti di Walking Street Pattaya. Tapi disepanjang jalannya di gelar pasar kaget mirip Ladies Market-nya Hong Kong. Bayangin ya, sewaktu kita masuk ke jalan Patpong ini, udah dikawal aja gitu sama orang yang kayak nawarin menu makanan (karena dia nyodorin kertas laminating gitu) sambil bilang ‘sex show?’ ‘ping -pong show?’ padahal udah kita cuekkin dan kita tolak tuh, tapi tetep aja itu orang ngintil keukeuh nawarin sex show. Sampe akhirnya dia nyerah terus berhenti nawarin. Eh, dateng lagi 1 orang yang beda nawarin hal yang sama. Dan begitu seterusnya sampe ujung jalanan Patpong ini. Duh! Hmm, to be exact, sebenarnya bukan kita sih yang ditawarin, tapi si Konyol doang. Kita kan jalan serombongan ber-5. tapi nih orang-orang pasti nyodorin menu sex show-nya ke Konyol. Kira kira kenapa ya? Hahaha…

Akhirnya kita keluar dari jalan Patpong untuk mencari tempat nongkrong yang lumrah lumrah aja. Dan end up di salah satu cafe pinggir jalan di Silom Road, masih di sekitar Patpong juga. Disini kita sempat dihibur sama pesulap jalanan berkostum Elvis yang kirain show gratis eh gak taunya ujung-ujungnya duit! Suek’! Nah yang lucu, waktu kita mau balik ke hotel, kita dicariin taksi yang pake ‘meter’ sama salah satu pekerja di cafe. Anehnya, sekali nyetopin taksi, langsung mau nih supirnya pake meter. Padahal setau saya, jarang taksi di Bangkok mau pakai meter. Untungnya kita sempet nanya sama si pekerja cafe, kira-kira naik taksi ke Petchaburi Road berapa, dan si pekerja bilang sekitar 60-70 Baht, tergantung macet atau enggak. Logikanya, harga segitu murah dong? yang berarti letak hotel kita itu gak jauh-jauh amat. Dan lagi dia sama sekali gak mention kalo kita harus lewat tol atau ada tambahan biaya tol. Nggak berapa lama jalan, si supir tau-tau minta uang tol. Kita bingung tuh kenapa musti lewat tol, kan seharusnya gak jauh. Secara cerita trik-supir-taksi-muterin-penumpang juga banyak di Jakarta, kita langsung was-was. Si Aya bilang ke supir kalau kita gak perlu lewat tol. Tapi si supir dengan bahasa Thai-nya ngotot kalau kita harus lewat tol, karena (dari bahasa isyaratnya, dia bilang) macet. Aya sama ngototnya sama si supir tetep keukeuh untuk gak lewat tol dan gak masalah dengan macet-macetan. Karena si supir udah bawa kita ke gerbang tol, akhirnya mau gak mau kita ngeluarin uang tol sekitar 20an baht. Kecurigaan semakin menjadi-jadi akhirnya diputuskan untuk menelfon Pak Thanu. Dan bener aja lho, kata Pak Thanu seharusnya jalan balik ke hotel itu emang gak lewat tol. Pak Thanu bilang dia mau ngomong sama supirnya, jadi langsung dioper deh tuh telepon ke supir taksi. Setelah itu, si supir taksi langsung keluar tol dan mengantar kita ke hotel dengan waktu gak lebih dari 10 menit. Jadi setelah ditanyain lagi ke Pak Thanu, Pak Thanu bilang ke si supir, kalau Pak Thanu (pura-puranya) sudah nunggu di hotel dan si supir harus sesegera mungkin mengantar kita ke hotel. Ha! Thanks a bunch Mr Thanu! we owe you!

Cafe at Silom Road

October 16th 2011 | Day 4

Chatuchak Market | Siam Paragon | Chao Praya Dinner Cruise

Saya sengaja meng-arrange 2 hari khusus di akhir trip ini untuk be-lan-ja! Dengan pertimbangan sebagai berikut :

  1. Gak perlu repot bawa koper gemuk kesana kemari. Gak kebayang kan kalo belanja di hari pertama, pasti repot bener bawa segunung belanjaan pindah-pindah hotel.
  2. Banyak yang bilang kalau belanja di Bangkok, either itu Chatuchak ataupun Platinum gak cukup 1 hari, apalagi beberapa jam!

Saya dan rombongan berangkat dari hotel sekitar jam 9 pagi, jalan kaki 7 menit ke BTS Siam via Siam Paragon. Yup, untuk ke BTS Siam, kita numpang lewat di Siam Paragon karena BTS Siam ini terletak di depan Siam Paragon, sedangkan hotel kita ada di belakang Siam Paragon. Waktu itu kami membeli single pass ticket dengan tujuan BTS Mo Chit. Tadinya sempet kepikiran untuk ambil one-day-pass ticket, tapi setelah diitung-itung, karena kita tujuannya cuma ke Mo Chit lalu balik lagi ke Siam, lebih hematan kalau beli single pass ticket.

OTW to Chatuchak

Perjalanan dengan BTS ini cuma menghabiskan waktu sekitar 15 menit, setelah itu geng cewek (saya, Aya, dan Nana) berpisah dengan geng cowok (Konyol dan Lutfi) agar bisa meng-efektifkan waktu sebaik-baiknya. Biar gak ribet dan bingung, kita janjian ketemuan di BTS Mo Chit sepuasnya muter-muter Chatuchak.

Pernah ke Gedebage-Bandung? Nah, Chatuchak ini persis sama Gedebage Bandung. Bedanya, luas pasarnya jauh lebih besar dan menjual aneka-rupa-segala barang apa aja yang bisa dijual. Dari mulai kebutuhan sandang, pangan, perabot papan dan segala-galanya. Harganya beneran murah kayak yang dibilang orang-orang, tapi ada juga yang mahal, makannya harus ditawar. Menurut saya, patokan beli blouse itu musti sekitaran 100-150 Baht (IDR30.000-45.000). Dan untuk dress 200-250 Baht (IDR 60.000-75.000). Lebih dari itu? lupakan! Tapi ya, di Chatuchak ini, ada juga distrik pakaian menengah seperti barang-barang di Brightspot gitu, harganya jelas lebih mahal, rata-rata diatas 500 Baht. Saya pribadi sih sayang banget kalo beli baju di Chatuchak tapi harganya mahal, mending beli di mal sekalian. Jadi saya lebih suka ngubek-ngubek distrik pakaian biasa-nya yang kalo jeli, banyak juga kok yang lucu-lucu.

Chatuchak Market

Kita sempet makan siang disini, tau gak makan apa? mie ayam! kirain mi ayamnya bakal gimana gitu ya, gak taunya, so-un kuah bening dikasih suiran ayam. Penampilannya sih gak menarik, kelaitan hambar. Tapi begitu dicoba..astaga…enak banget!! Kuahnya itu pas rasanya! Nih ada fotonya :

Sekembalinya dari Chatuchak, yang pastinya untuk menuju hotel mau gak mau harus mampir Siam Paragon dulu. Ehm, ralat : mau gak mau numpang pipis dulu di Siam Paragon. Sumpah ya, berasa jadi the most dekilest person at that time. Siam Paragon saat itu penuh dengan muda-mudi kece dan wangi, bagaikan bumi dan langit dibandingkan dengan sekawanan muda mudi bawa plastik kresek sekarung, bersendal jepit, dan beraroma keringat seperti kami.

Malam ini adalah malam terkahir di Bangkok, sesuai tradisi, dinner di malam terakhir biasanya harus istimewa. Makannya acara dinner cruise di Chao Praya sengaja direalisasikan malam ini. Inget dong hari pertama kita nemuin tour dinner cruise 950 Baht termasuk antar jemput? Nah rencananya sore jam 5 kita akan dijemput oleh si driver yang diutus dari tour. Sempet parno jangan-jangan kita ditipu karena jam 5 si driver belum juga mucncul. Bolak-balik nelfon Ms Apple (Cewek yang ngelayanin kita waktu beli tiket dinner cruise), katanya memang si driver datang telat tapi dia meyakinkan kalau kita pasti dijemput. Dan benar aja, sekitar jam 18.30 si driver datang juga. Sepertinya si driver terlambat karena harus menjemput 2 pasangan lain dulu sebelum kita.

Kita akhirnya diturunkan di River City Mall. River City Mall ini tempat seluruh cruise menjemput para penumpanganya. Waktu itu kita kebagian Chao Praya Princess IV di deck bawah. Lumayan lama nunggu antrian kapal, giliran kapal kita ternyata baru akan datang jam 8.

Setelah dipikir-pikir, kok kayaknya seruan di deck atas ya? Gak kehabisan akal, si Aya manggil salah satu petugas penjaga antrian tamu masuk kapal, dan mengeluarkan jurus rayuan mautnya, dengan suara lenjeh untuk minta meja di deck atas. Dan….berhasil!! Yeaay! kebetulan masih ada meja kosong cukup untuk 5 orang di deck atas. Wohoooo!

Overall, saya nilai dinner cruise ini 7 dari 10. Makanannya standar, pelayanannya standar, hiburannya standar, view-nya lumayan. Berhubung ini cruise pertama dalah hidup saya jadi gak punya pembandingnya. Kalau punya uang lebih dan mau dinner lucu-lucuan bolehlah masukin dinner cruise ini ke ittinerarry. Tapi tidak direkomendasikan untuk budget travel, mengingat harganya hampir IDR 300.000, mending untuk beli baju bisa dapet 6 pcs *teteup*

Chao Praya Dinner Cruise

Sekembalinya dari dinner cruise, sekitar jam 11 malam, kita diantar kembali ke hotel dengan driver yang sama. Karena, ini malam terakhir dan lagi lagi merasa gimanaaa gitu kalo jam 12 malem udah ngejogrog di kamar hotel, jadinya saya, Aya, dana NJ (Yang cowok-cowok gak mau ikut karena kecapekan. payah!) memutuskan untuk cari Thai Massage. Kebetulan dari hotel, ada beberapa tempat Thai Massage yang masih buka, dan kita pilih tempat yang paling bagus, paling rame, dan paling murah. Cuma 200 Baht aja untuk 2 jam Thai Massage.

Waktu di massage, saya baru ngeh, ternyata saya udah pernah Thai Massage di Bali 2 tahun yang lalu. Karena metodenya sama, mijitnya gak pake telapak tangan, melainkan pake lengan dan sikut, badan dipelintar pelintir, bahkan sampe didudukkin segala sama massaseur-nya. Tapi yang sekarang saya rasain ini emang lebih hardcore dibanding di Bali (yaiyalahya..yang asli) Ada saat-saat dimana badan si massaseur ini bertumpu di badan kita. Massaseur saya gendut pula dan tenaganya tenaga kuda. Mati gak lo! hahaha! Tapi saya akui, emang badan enak banget setelah di Thai-Massage. Sekujur badan jadi lemas tak berdaya, maunya langsung tidur aja ditempat. Eh, tapi emang saya sempat tidur lho waktu bagian kepala dipijit, massaseur-nya jago banget, sedetik dia mijit kepala saya, sumpah itu berasa langsung black out dan tertidur pulas. Great experience!

October 17th 2011 | Day 5

Pratunam Market | Platinum Mall | Siam Paragon

So here we come to the lastest day in Thai! Koper sudah tertata rapih siap diangkut dan dititip di resepsionis, sementara kita tentu saja masih akan berkeliling di Pratunam Market dan Platinum Mall yang cuma butuh waktu 7 menit untuk dicapai dengan jalan kaki. Sekali lagi, saya masih takjub dengan lokasi Residence Rajtaevee ini. Thank God I found you!

Pertama kita menjelajah Pratunam Market, masuk jauh kedalam gang-gang pasar dan membeli baju baju lucu dengan harga 100-200 Baht! Sempat keliling nyari Baiyoke Garment, karena katanya tempat ini barang-barangnya sama dengan Chatuchak dan bahkan harganya jauh lebih murah. Tapi anehnya tanya sana sini, gak seorang pun tau dimana Baiyoke Garment, yang mereka tau cuma Baiyoke Tower/Baiyoke Sky.

Kenyang belanja di Pratunam, kami langsung menyerbu Platinum Mall yang letaknya tepat di depan Pratunam Market persis! Baru keliling lantai pertama, kok..mahal-mahal ya?? Harga bajunya berkisar 300 Baht keatas. Padahal udah ditawar untuk beli grosir (3 buah) tapi tetep aja harganya gak bisa semiring di Pratunam. Ada sih yang harganya 200 Baht, tapi jarang banget. Maka dari itu, pasukan segera ditarik mundur untuk kembali ke Pratunam :)

Pratunam Market

Jam 3.30 sore kita mengundurkan diri dari dunia perbelanjaan Bangkok dan kembali ke hotel naik tuk-tuk untuk naro belanjaan, lalu melanjutkan perburuan oleh-oleh ke Siam Paragon, naik Golf Cart. Nah, salah satu kehebatan Residence Rajtaevee lagi, diujung gang hotel ini, tersedia kendaraan semacam Golf Cart, untuk mengantarkan penumpang ke Siam Paragon, free! Sampai di Siam Paragon, masuk ke Gourmet Market-nya buat nyari manisan mangga buat oleh-oleh. lalu disinilah insiden itu terjadi. Insiden bertemu Nicholas Saputra! Beneran Nicholas Saputra!!!

Oke, sebenernya memang saya agak kurang beruntung, karena saya cuma bisa melihat dari belakang, karena waktu itu saya membelakangi dia yang sedang berjalan ke arah saya lalu berlalu ke arah saya menghadap. Intinya, yang sempet ngeliat itu si Aya, si lucky bastard! Waktu Nico ngelewatin saya, si Aya langsung gandeng tangan saya ngomong tergagap-gagap, mengajak saya jalan cepat mengikuti orang yang baru saja melewati saya tadi. Saya : Mau kemana sih?. Aya : a..a..a..a..itu..sii…Nicolas! Nicolas Saputra barusan lewat!!!! saya: ah?? sumpah demi apa loo??? kenapa gak bilang dari tadiiii? aya : gw kaget nyet! ayo cepet kejer yuk kita minta foto! Saya : ayoookkkk!! *Setengah berlari*

Tapi memang dasar belom jodoh, waktu di belokan tiba-tiba dia lenyap begitu saja. saya, aya dan NJ udah 2 kali keliling tuh supermarket tapi gak nemu :( hiks! Tapi ya..it is just freaking unbelievable dude!! i was like speechless! my dream almost came true, dude!!! Baiklah, jadi gini, i’ve been following his twitter, and adore him because he’s a hot traveler, ever! bayangin ya, one day dia di Macchu Picchu and another day tiba-tiba udah di Labuan Bajo aja loh! Well for me, that’s hot 😉 I always want one day, we could meet somewhere on the globe. Dan, sehari sebelum ini, saya mendapati twit Nico bahwa dia sedang menyebrangi Chao Praya. Agak kaget juga tau dia ada di Bangkok. Ngapain? Karena gak mungkin kan traveler sekelas Nico belum pernah ke Bangkok. Ngelamun babu bisa gak sengaja ketemu tapi gak mungkin kan ya? Sampai akhirnya kemudian Tuhan menunjukkan kekuasaanNya. Dia melewati saya di Gourmet Market di Siam Paragon di Bangkok. It’s in Thailand! Awwww, such a drama! Hehe, demikian cerita saya soal Nico.

At Free Golf Cart

Dan Jam 4.30 sore akhirnya kita beranjak ke Suvarnabhumi dengan van sewaan dari hotel seharga 700 Baht. Lalu kembali ke Jakarta dengan selamat dan sehat tanpa ada hambatan yang berarti.

See you on my next trip :)

New Zealand, probably? Gee hee.. I wish!