Home / Asia / #TravelDiary – Weekend Getaway : Bunaken and Beyond

#TravelDiary – Weekend Getaway : Bunaken and Beyond

Kalo judulnya short trip dan tempatnya lumayan jauh dari Jakarta, biasanya saya dapet gratisan *nyengir-selebar-lebarnya*. Anyway, jatah plesiran tahun ini dirancang sekilat mungkin. Karena anak-anak se-tim pada bingung, tempat wisata di Indonesia yang kira-kira masuk akal didatengin pas weekend doang tuh mana lagi. Tapi gak mau yang deket-deket juga berhubung ini trip gratisan, aji mumpung ogah rugi lah yah! Akhirnya si Adit yang punya ide untuk ke Bunaken, mata saya langsung membulat berbinar pertanda setuju. Dan, begitu kita bilang mau ke Bunaken, si vendor pun tanpa babibu langsung setuju yang akhirnya ditentukan minggu depan berangkat!

Excited sekali karena selama 24 tahun saya hidup, belum pernah menginjak yang namanya Sulawesi.

Dari kantor diutus 7 orang. 5 dari media dept (saya, Adit, Audi, Mas Ajo, dan Ludi) dan 2 dari finance dept (Ci Eli dan Rizal). 2 orang lagi dari vendor yang bertugas nemenin kita jalan-jalan (Mba Fitri dan Mela). Total 9 orang terbang ke Manado hari Jumat sore tanggal 11 Mei 2012.

Sampai di Manado sekitar jam 10 malam, dijemput dan di-guide dengan baik sekali oleh err…aduh maaf lupa namanya. Tapi yang pasti guide-nya ini laki’ banget dan lumayan enak dipandang. Jadi bawaanya happy kalo dengerin dia cerita. Hehehe…

Walaupun anggota rombongan cuma 7 orang, tapi jangan salah, transportasi yang kita pakai adalah bus medium dengan 35 kursi. Lega banget! Salut deh buat servisnya.*selonjoran*

Day 1 – 11 Mei 2012
1st Dest – Kawasan Megamas

Kawasan Megamas ini kabarnya adalah kawasan gaul-nya Manado. Isinya cafe-cafe atau restoran baik untuk makan atau cuma sekedar nongkrong-nongkrong. Kita mampir ke kawasan ini untuk makan malam, dan pilihan jatuh ke The Club. Tidak seperti namanya, The Club ini lebih cenderung seperti kafe dan restoran dengan suasana remang remang, ada live music-nya, udaranya sedingin di puncak padahal ini pinggir pantai lho! Disini kita late dinner, makanannya lumayan enak dan pelayanannya juga cukup baik.

The Club – Megamas
DSC02536

Sehabis dari Megamas, kita langsung menuju hotel untuk istirahat, mengingat jam sudah sampai di sekitar angka dua belas. Waktunya men-charge badan biar besok tenaga full tank untuk  mengeksplore Manado lebih dalam lagi. Yeheeey!

Day2 – 12 Mei 2012
2nd Dest – Bunaken

Buat saya, bangun siang pas lagi jalan-jalan itu haram hukumnya. Jadi jangan heran kalau saya mencak-mencak kalo ada anggota rombongan yang bangun siang. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena satu orang telat bangun, bisa-bisa serombongan gagal jalan-jalan. Jam 7 pagi ini, sebagian besar rombongan udah siap nunggu di lobby hotel setelah sarapan, kecuali si Adit, Mas Ajo, dan Rizal gak yang ditungguin gak nongol-nongol juga batang hidungnya. Ya gak salah dong ya, kalo saya gedor-gedor kamar mereka dan ngomel-ngomel. Taunya masih pada molor aja loh. Akhirnya mereka bangun gak pake mandi langsung turun ke lobby. Hihihi..

Begitu sampai di dermaga penyebrangan, kita sudah disuguhi perahu kayu ukuran sedang yang tentu saja cukup lega untuk rombongan ber-9 ini. Penyebrangan ke Bunaken kira-kira menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Sayangnya, kita tidak diperbolehkan dive disini, bukannya apa-apa tapi dari vendor-nya yang gak menyetujui dengan alasan keselamatan. Ya emang sih, dari kita semua gak ada yang bersertifikat. Ya sudahlah semoga puas hanya dengan snorkeling yaaaa…

Oke, perlu dicatat, jangan berharap kalau Bunaken ini adalah pulau kecil yang masih alami, seperti pulau-pulau kecil berpasir putih di Kepulauan Seribu, Belitung, atau KarJaw. Yang diungguli dari Bunaken bukan pulaunya, melainkan taman lautnya. Yes, taman lautnya emang oke banget. Padahal saya cuman turun di satu spot, tapi katanya sih ini yang paling epic. Well, menurut saya yang bikin spot ini berbeda adalah, taman lautnya luas sekali dengan model bertebing-tebing. Ah! yang pasti lebih ciamik kalau dinikmati sambil diving, bisa turun ke tebing-tebing yang lebih dalam. Moral of the story guys, please visit Bunaken dengan perlengkapan diving, kalau snorkeling doang sumpah deh ‘kentang’. kena tanggung!

Maybe next time, awrite?

Anehnya, Bunaken kan bukan lagi tempat tujuan wisata baru di telinga orang Indonesia ya? masa’ fasilitasnya masih aja minim. Gak nuntut fasilitas yang gimana-gimana juga sih, as simple as tempat bilas/mandi aja deh. Ya hastaga..bilik sedikit, air pun sulit. Kalo Belitung mah bisa dimaklumi, belum direvitalisasi sedemikian rupa karena tergolong tempat tujuan wisata yang namanya baru membumbung. Lha Bunaken? alhasil demi menghindari antrian di tempat pembilasan/pemandian umum, akhirnya kita direlokasi untuk mandi di penginapan orang. Hehehe..

Bunaken
DSC02549 DSC02563 DSC02565
DSC02604DSC02610DSC02652

Sehabis bilas-membilas, kita lunch masih di Bunaken. I guess, satu-satunya tempat makan/restoran di Bunaken ya itu doang, jadi pas makan siang, ramenya bukan main, tumpek blek. Makanan yang terlihat gak dimakan oleh rombongan kita, tiba-tiba aja raib diambil pelayan yang gak taunya dioper ke meja sebelah. Lah? Bisa gitu ya? dan gak heran kalau harganya ditembak mahal dengan kualitas asal goreng doang, bumbunya gak berasa. Selayaknya hukum permintaan, semakin sedikit penawaran dan semakin banyak permintaan berimbas pada harga yang mahal. Ya kan?

3rd Dest – Patung Yesus Memberkati
Setibanya kembali di dataran Manado, kita menuju patung Yesus Memberkati yang juga gak kalah epic. Kenapa? karena patung Yesus ini adalah patung Yesus raksasa terbesar ketiga di dunia, setelah di Rio De Janeiro dan di Polandia (CMIIW). Letak patung ini berada di perbukitan komplek perumahan Citraland Ciputra. Quiet impressed.

Patung Yesus Memberkati
DSC02672

4th Dest – Merciful Building

Ada apa di Merciful Building? Ada tempat oleh-oleh!! Berhubung ini adalah perjalanan yang disponsori dari rekanan kantor, tentunya membawa oleh-oleh untuk orang-orang kantor adalah wajib.

 

5th Dest – Pantai Malalayang

They said, this is the best place to have a beautiful sunset in Manado. Banyak kafe-kafe di sepanjang Pantai Malalayang ini, ritual menonton sunset di sini biasanya ditemani oleh kudapan khas Manado, yaitu pisang goreng dabu-dabu. Dari makan siang di Bunaken tadi, sebenernya kita udah dapat menu pisang goreng plus sambal, tapi gak ada yang mau nyentuh, karena still, aneh aja gitu makan pisang goreng kok pake sambel. Akhirnya waktu nongkrong santai di sambil nunggu sunset di pantai ini, karena pisang goreng itu adalah satu-satunya makanan yang disuguhkan, tangan ini gatel juga pengen nyobain. Eh ternyata…enak banget! Hahaha, ujung-ujungnya, kita malah pada rebutan. Pisangnya dan sambelnya itu rasanya cocok!

Setelah sunset berakhir, saya dan rombongan kembali ke hotel untuk bersih-bersih sebelum keluar lagi untuk makan malam. Rencananya makan malam hari ini mau di Raja Sate, tapi tampaknya ada miskoordinasi, karena restoran penuh banget dan meja kita belum di reserved, padahal seharusnya sudah. Akhirnya kita cari alternatif restoran di kawasan Megamas. Gak nyesel juga karena restoran seafood bernama Wahaha ini semua makanannya enak banget! rekomendid loh buat yang mau ke Manado. Nah, pas banget waktu selesai makan, saya berasa meja saya goyang-goyang, trus tiba-tiba si Ludi, yang waktu itu duduk sebelah saya nyolek dan nunjuk lampu di atas yang juga goyang-goyang. Kita semua diem, saling lirik dan bilang ‘gempa ya??’ Anehnya, gempa yang cukup lama dan cukup berasa itu gak bikin orang-orang di restoran panik, mereka tetap melanjutkan makan kayak gak ada apa-apa. Udah biasa kali ya? Sementara rombongan saya doang yang berisik parno dan buru-buru keluar restoran. Hihihi..

View at Malalayang
DSC02674
DSC02682

Day2 – 13 Mei 2012
6th Dest – Tomohon, Minahasa

Berhubung ini adalah hari terakhir, pagi-pagi, tanpa ada yang telat kita udah siap di lobby. Barang-barang juga udah diangkutin sekalian, karena selepas dari Tomohon-Minahasa, kita akan langsung ke bandara.

Konon katanya Minahasa adalah kota penuh sejarah, hasil dari jajahan Belanda dulu masih cukup kental di Minahasa ini, karena masih ada penduduk yang fasih berbahasa Belanda, bahkan gereja yang berbahasa Belanda juga ada. Si guide sempat menceritakan kalau dulu pertanian rempah-rempah di Minahasa ini sangat berjaya, orang bisa kaya raya hanya dengan bertani rempah-rempah. Oya, di Minahasa ini juga bersemayam makan Tuanku Imam Bonjol lho.

Tomohon ini hanya sekitar 30 menit dari Manado, jalannya berlika-liku, dan udaranya juga sejuk. Entah kenapa, saya suka sekali dengan kota ini. Pas sekali dikunjungi waktu pagi. Kita mampir di Pagoda Ekayana, banyak patung dewa dewi disini, ada juga kuil Dewi Kwan Im. Kebetulan Audi berkeyakinan Buddha, jadi dia sekalian sembahyang deh. Di Pagoda ini juga ada uji lempar koin. Kalau koin bisa masuk lubang tengah replika koin di tengah kolam, katanya permintaan kita akan terkabul. Sayangnya, gak ada dari kita yang berhasil menjebol pertahanan replika koin yang berputar-putar di tengah kolam.

Di pagoda ini kita juga bisa melihat Gunung Lokon dengan sangat jelas. Sebenernya gak ada yang spesial sama gunung ini, tapi lagi-lagi gak tau kenapa, kok jadi keliatan bagus banget ya?

Pagoda Ekayana & Gunung Lokon
IMG-20120513-00457 IMG-20120513-00460 IMG-20120513-00462

Dari Pagoda Ekayana, kita beranjak ke Danau Linow, danaunya cantik sekali, apalagi ditambah aksen kafe di pinggir danau, jadi tambah bikin melting. Serius deh, menghabiskan sepagian duduk-duduk di kafe di pinggir Danau Linow ini, beautiful moment banget! even though nothing special happened there, but…it felt so damn special. I just like to be there, really. :)

Danau Linow
IMG-20120513-00469 IMG-20120513-00470

Masih ada Bukit Kasih/Doa dan Danau Tondano yang bisa dikunjungi di Minahasa, sayang perjalanan kesana memakan waktu 2 jam yang mana gak mungkin dijabanin. Yah sudahlah, hanya sampai Danau Linow jejak kaki ini bisa menggapai *Tsaah* kita harus segera kembali ke Sam Ratulangi lalu terbang ke Jakarta.

Thank you Manado, you have my heart!