Home / Asia / First Time Caving : Goa Buniayu | Goa Kerek | Goa Cipicung

First Time Caving : Goa Buniayu | Goa Kerek | Goa Cipicung

Super excited sekali karena ini kali pertama saya caving. Dan kali pertama juga saya join dengan rombongan lain yang gak saya kenal. Awalnya sih, H-14 teman kantor saya, Dini yang punya rencana dengan teman-temannya mau caving di Goa Buniayu tanggal 8 Oktober. Dini mengajak saya dan waktu itu nggak langsung saya iya-kan karena mengingat tgl 13 Okt saya juga harus mengumpulkan stamina untuk trip ke Thailand. Dan lagi setelah googling tentang Goa Buniayu ini, nemu foto-foto yang cukup bikin jiper untuk ikutan. Ketiga, di kepala saya langsung kebayang film Sanctum. Duh! Ngerinya! Tapi pada akhirnya setelah maju mundur serong kiri kanan, saya iyakan juga ajakan Dini. Hahaha hasrat-ingin-mecoba-sesuatu-yang-baru ini ternyata bisa mengalahkan segalanya :))

Sabtu Subuh. 8 Oktober 2011. 1 mobil Avanza diisi 6 orang (Dini, Martin, Nikita, Renata, Ridwan, dan saya) yang baru saya tahu belakangan ternyata beberapa memang baru saling kenal juga. Jakarta – Buniayu ditempuh selama 4,5 jam. Cuaca selama perjalanan mendung, hujan volume sedang. Agak was-was juga karena ada beberapa teman yang wanti-wanti sebaiknya gak caving pada waktu hujan karena air dalam goa akan pasang. Sampai di Buniayu, Sukabumi sekitar jam 10-an. Briefing dan ngobrol-ngobrol dengan Pak Ferry yang akan menjadi pemandu kita caving siang nanti. Belum apa-apa sudah dapat welcome snack berupa pisang sale fresh from penggorengan dan teh manis hangat.

Setelah tanya ini itu dan diberi pengetahuan tentang goa oleh Pak Ferry, yang pernah belajar Speleologi (Ilmu tentang Goa) bahwa dengan curah hujan kecil seperti itu, air di goa tidak akan pasang dan caving hari itu dinyatakan aman. Huaaah legaaa..bulat sudah tekad saya untuk caving hari ini. Pak Ferry juga sedikit bercerita bahwa di Sukabumi ini terdapat 83 Goa. Nah, yang akan kita telusuri ini adalah salah satunya. Biasa dikenal dengan Goa Kerek/Goa Cipicung.

Kenapa hanya 1 Goa? Karena menurut Pak Ferry, hanya Goa Cipicung inilah yang sudah dianggap mewakili pemandangan dalam 82 goa lainnya. Didalam goa ini sudah lengkap kanopi karst-nya, stalagtit stalagmit setinggi 2 meter, sungai, air terjun, dan danau.

Goa Cipicung ini memiliki 4 pintu masuk. Pintu masuk 3 dimasuki dengan gaya kerek (karena vertikal), Pintu masuk 4 adalah yang akan menjadi pintu keluar kita nanti setelah caving horizontal 1500 m. Pintu 1 dan 2 terdapat di Goa Wisata yang biasa dikunjungi oleh wisatawan.

Tadinya ke-empat pintu ini saling tembus, tapi karena ada lapisan sedimen yang menutupi lubang jarum yang menghubungkan pintu 1, 2 dengan 3, 4 maka sudah tidak bisa lagi dijamah jalur penghubungnya.

Rumah penduduk yang akan kita tinggali waktu itu terbuat dari kayu, sangat sederhana, bersih dan nyaman. Rumah ini milik Umi, ibu-ibu yang sekaligus jadi juru masak kita selama di Buniayu. Masakannya jangan ditanya, enak banget!! Kalo kata Pak Ferry, bumbu yang dipakai si Umi ini bumbu ikhlas. Makannya rata-rata tamu yang datang pasti kepincut sama masakan Umi. Sebelum masuk Goa jam setengah 1 nanti, kita disuguhi dulu makan siang buatan Umi dengan menu nasi sebakul + sayur sop hangat + bergedel kentang + kerupuk. Enak banget dimakan sambil menikmati udara dingin Sukabumi.

Penginapan Umi
SONY DSC

Pas jam setengah 1, dengan perlengkapan komplit (sepatu boot, helm, dan caving wearpack) pasukan sudah siap menuju mulut goa vertikal. Karena wearpack-nya warna oranye dan kita juga pake sepatu boot, tinggal bawa sapu udah deh persis dinas kebersihan DKI. Siap diangkut ke jalan-jalan protokol Jakarta. Hahaha…

Full Team in Wearpack
SONY DSC

Jalan kaki sekitar 3 menit dari penginapan, sampailah kita di mulut goa. Pak Ferry briefing sebentar dan masing-masing dari kita mulai memakai perlengkapan keamanan untuk dikerek ke dalam goa. Saya udah mulai merinding gimana gitu, karena saya giliran ke-3 yang dikerek masuk kedalam goa 20 meter setelah Dini dan Renata. Memang perlu nyali untuk rela dikerek ke dalam goa, karena nyawa kita tergantung pada seutas tali, maka dengan ‘sedikit’ kehebohan ketika proses kerek dan sedikit cekrak cekrek (baca: poto) sewaktu turun, Alhamdulillah mendarat juga dengan selamat. ternyata setelah dijalanin, gak ngeri-ngeri amat ya…

Kerek Time
bun1 bun

Setelah semua rombongan turun ke goa, kita mulai jalan menyusuri goa Cipicung/Goa Kerek ini. Kabarnya kita akan melintasi zona terang, zona senja dan zona gelap abadi. Di depan rombongan, ada Pak Ferry yang memimpin dengan penerangan dari karbit di helm-nya, dan di paling belakang ada Pak Wawan yang juga memakai penerangan yang sama dengan Pak Ferry. Awalnya, medan masih ringan untuk dilalui, Pak Ferry dengan leluasa menceritakan asal muasal terbentuknya Goa beserta batuan-batuan didalamnya, sumber aliran air yang menggenangi goa, dan fosil-fosil yang terdapat di bebatuan dalam Goa.

Di kedalaman puluhan meter dari tanah ini, suhunya mencapai 18 derajat celcius. Itulah kenapa ketika lagi ngomong, dari mulut keluar asap, sama kayak kita kalo lagi di puncak gunung. Dan karena saking gelapnya, kalau kita lagi istirahat duduk setelah jalan, keliatan aja gitu dari badan kita keluar asap juga. Katanya sih karena ketika kita gerak, suhu dalam badan panas sedangkan suhu diluar badan dingin.

3 jam berlalu, track yang dilalui semakin menantang. Dari menyusuri sungai penuh lumpur, jalan merayap di dinding goa, sampai yang paling hot itu ketika kita harus melewati track dengan gaya sebagai berikut : punggung menempel di dinding goa sebelah kanan, kaki menahan di dinding goa sebelah kiri dan pantat tanpa tumpuan. Lalu bergerak dengan punggung dan kaki bergeser perlahan. Hingga ketika dinding kanan dan kiri semakin melebar dan kaki kanan dipaksa bertumpu di lantai goa yang agak jauh dari jangkauan. Karena pada saat adegan itu bagian bawah badan kita tidak ada lantai goa-nya alias seperti jurang kecil gitu. Huaaa jelas aja saya parno karena gak yakin sama kemampuan kaki yang disuruh menjejak sejauh itu. Sampai akhirnya saya spontan berteriak “pegang pantat saya, pak! pegang pantat saya!” kepada Pak Wawan yang berjaga di tengah-tengah track itu. Maksudnya pegang pantat saya itu ketika saya mau meletakkan kaki di lantai goa sebrang sana agar pantat saya gak jatoh dan ada tumpuan. Tapi ternyata saya berhasil tanpa dipegang pantatnya! hahaha..bapak-bapaknya juga sopan sih, mau nolongin kita aja dengan menarik tangan kita, dia minta maaf dulu. Sewaktu menunggu yang lain melewati track serupa, saya, Dini dan Niki baru sadar betapa ‘murah’nya teriakan saya tadi. Hahahaha..

Saya dan yang lainnya kira gaya punggung merambat di dinding tadi adalah adegan puncak yang tersulit. Ternyata setelah itu masih ada hamparan lumpur yang harus dilalui dengan susah payah. Dan ternyata lagi, pakai sepatu boot itu tidak mempermudah jalan di lumpur, malahan mempersulit. Karena beban waktu mengangkat kaki berat sekali. Sering kaki keangkat tapi boot tertinggal. Tenaga kita habis terkuras disini. Ditambah lagi ketawa terjungkal pingkal karena merasa lucu melihat satu sama lain jalan seperti zombie. Tapi serunya kita jadi gotong royong membantu mengangkat kaki teman yang nyangkut di lumpur. Track lumpur ini cukup panjang, ada yang dilalui dengan berdiri, ngesot, merangkak, berguling, dan gaya gaya lainnya. Serulah pokoknya.

Inside Goa Cipicung
SONY DSC bun2
bun3

4 jam berlalu, akhirnya surga dunia terlihat juga, (baca : cahaya matahari). Rasanya lega banget..tapiii si cahaya matahari gak semudah itu untuk digapai. Untuk mencapai lubang keluar, kita harus menaiki tangga sirkus satu kaki. Iyaaa itu lho tangga yang menggantung yang biasa dipakai di sirkus sirkus, tapi lebar tangganya cuma muat untuk 1 kaki dan untungnya bukan menggantung di langit langit goa, tapi menggantung di tebing lumpur. Tetep aja sih kalo dinaikkin tuh tangga goyang goyang melintir sana melintir sini. Si Dini pantatnya malah sempet nyangkut di dinding lumpur gara-gara pas tangganya di naikkin melintir ke arah dinding :))
Sekeluarnya dari Goa, kita digiring untuk menuju Air Terjun Bibijilan yang ternyata masih jauh aja loh dari mulut goa.. masih harus berjuang melewati terasering-terasering sawah dengan jalanan setapak naik turun. Kaki yang masih pake boot mulai kerasa sakit karena lecet sewaktu mati-matian mengangkat boot di lumpur dalam goa tadi. Akhirnya daripada makin lecet, nyeker aja deh.

Survivor!
bun5 bun4

Setelah kurang lebih 20 menit jalan kaki, tuh suara air terjun kedengeran juga, dan kita masih harus menuruni bebatuan besar-besar untuk sampai ke sungai dan air terjunnya. Karena batu licin dan takut kepleset, jadinya saya memutuskan untuk turun dengan cara ngesot perlahan lahan dari 1 batu ke batu yg lain, ternyata gak ngaruh. saking licinnya, saya yang udah ngesot -ngesot di batu masih saja terpeleset merosot tak terkendali. Alhasil pantat mengantam batu-batu dan dipastikan akan biru lebam. Gw meringis menahan sakit sementara teman-teman lain di belakang pada panik “ya ampun mit! gakpapa?? sakit ga?!” dan saya seperti biasa, sok kuat dengan lantang bilang “gakpapah! hehehe..”

Dini yang sepertinya mau melakukan pertolongan pertama pada saya, begitu menginjakkan kakinya di batu tempat saya tergelincir tadi, eh..gantian dia yang tergelincir, malahan lebih ekstrim sampe jatoh terguling-guling gitu. Oke, ralat. terguling, satu kali. Saya yakin sejuta persen pasti dia jauh lebih sakit ketimbang saya. Tapi untung gakpapa, gak ada yang luka, cuma badannya katanya sakit dan dipastikan ada bagian yang biru lebam juga.

Sebenarnya, gak ada yang istimewa dari air terjun ini, tapi karena kita waktu itu lagi capek dan kotor banget, jadi ketemu air rasanya kayak ketemu nicholas saputra. seneng banget. Hehehe.. Lumayanlah bisa ngademin badan sekaligus bersih-bersih. Lalu kembali ke penginapan sebelum gelap. Alhamdulillah, balik ke penginapannya gak jalan kaki, tapi naik mobil pick up. 😀

Air Terjun Bibijilan
bun7 bun6

Malamnya si Umi masakin kita Opor ayam + teri cabe ijo nan lezat dan nikmat. Beneran gak boong, masakannya Umi enak banget!! Selesai makan malam, tanpa banyak cang cing cong, semuanya langsung pada tergeletak kecapekan. Eh apa saya doang ya? hahaha..soalnya saya yang pertama terlelap setelah makan.

Dinner
SONY DSC

Hari kedua, paginya, setelah sarapan nasi goreng, kita jalan-jalan ke dalam Goa wisata, namanya masih Goa Cipicung, tapi kali ini masuk dari pintu 1 & 2. Goa ini sudah rapih, sudah dibuatkan tangga-tangga dan jembatan-jembatan, sudah ada lampu-lampu yang ditambatkan, jadi untuk masuk kedalamnya gak perlu pake perlengkapan apapun karena ini Goa untuk berwisata. Biasanya kalau ada rombongan anak-anak ya diajaknya ke Goa ini.

Goa Wisata
bun8
SONY DSC

Begitu mau pulang ke Jakarta, si Umi langsung teriak “eh..makan siang dulu ini udah disiapin!” Wohoooo dapet makan siang ternyata!! Gak tanggung-tanggung, makan siangnya ayam goreng bumbu srundeng. Bener-bener deh nih trip kali ini bergelimang makanan sekali! Padahal modalnya cuma 350.000! Oemjihh! Ditambah 50.000 untuk bensin pp plus tip-tip pak Wawan dan Pak Ferry. Ini baru trip yang hebat dan hemat :p

Now, I’m so ready for Waitomo Cave! 😀

Kontak Pak Ferry : 081563537430